Masih ingatkah dengan tragedi kerusuhan besar yang melibatkan mahasiswa dengan aparat keamanan beberapa tahun yang lalu? Peristiwa berdarah Tragedi Trisakti memang telah lama berlalu dan kini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan pelajaran berharga bagi generasi kita saat ini dan akan datang. pengorbanan yang mungkin telah mulai terlupakan oleh sebagian generasi muda saat ini yang lebih memikirkan segala sesuatu yang bersifat materi tanpa menghargai sejarah dan apa yang telah di tinggalkannya, sejarah penting yang membawa Indonesia keluar dari lembah keterpurukan orde baru menuju indonesia yang kita lihat sekarang ini. reformasi, adalah apa yang lahir dari tragedi tersebut. satu kata yang butuh ratusan nyawa, ribuan pengorbanan, dan jutaan air mata untuk mewujudkannya, dan itu adalah apa yang kita rasakan sekarang ini.

Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998, kepada mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto untuk turun dari jabatannya, dengan harapan Indonesia akan menjadi lebih baik lagi. Kejadian ini memakan korban jiwa, yakni empat mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia serta puluhan lainnya luka. Mereka yang meninggal dunia adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 – 1998), Hafidin Royan (1976 – 1998), dan Hendriawan Sie (1975 – 1998). Keempat mahasiswa ini meninggal dunia tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti dada, kepala, dan tenggorokan.

Latar belakang kejadian Trisakti

Pada awal 1998 Ekonomi Indonesia mulai goyah. Hal ini diakibatkan pengaruh krisis finansial Asia sepanjang tahun 1997-1999. Mahasiswa pun akhirnya melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, tidak terkecuali mahasiswa Universitas Trisakti.

Para mahasiswa ini melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung DPR/MPR RI pada pukul 12.30. Tetapi aksi mereka dihadang oleh blokade polisi dan pihak aparat lainnya. Saat dihadang, kemudian beberapa perwakilan mahasiswa mencoba bernegosisasi dengan pihak polisi.

Setelah bernegosisasi, akhirnya pada pukul 17.15 para mahasiswa memutuskan untuk mundur. Namun yang ada aparat keamanan malah bergerak maju untuk menyerang dan menembakkan peluru secara babi buta ke arah mahasiswa. Kemudian para mahasiswa panik dan saling berpisah lari ketakutan, sebagian besar mahasiswa berlindung di dalam kampus.

Akhirnya, pada pukul 17.15 sore hari, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di kampus Universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras.

Pada pukul 20.00, dari laporan yang diterima dipastikan empat orang mahasiswa meninggal dunia karena tertembak, sementara satu orang mahasiswa dalam keadaan kritis. Walaupun pihak aparat keamanan membantah tidak menggunakan peluru tajam, namun dari hasil otopsi menunjukkan bahwa kematian tersebut dikarenakan peluru tajam.

Kronologi kejadian Trisakti

Pukul 11.00 – 13.00          : Aksi Damai ribuan mahasiswa di dalam kampus.

Pukul 13.00                         : Mahasiswa ke luar ke Jl. S Parman dan akan menuju gedung DPR/MPR.

Pukul 13.15                         : Dicapai kesepakatan antara mahasiswa dengan aparat keamanan, bahwa mahasiswa tidak boleh melanjutkan aksi. Tawaran dari aparat keamanan diterima baik. Kemudian mahasiswa melanjutkan aksinya di depan bekas Kantor Wali Kota Jakbar.

Pukul 13.30-17.00             : Aksi Damai Mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar berjalan dengan tenang tanpa ketegangan.

Pukul 16.30                         : Kemudian polisi memasang police line yang berjarak sekitar 15 meter dari mahasiswa.

Pukul 17.00                         : Diadakan pembicaraan dengan aparat keamanan yang mengusulkan mahasiswa supaya kembali ke kampus. Kemudian mahasiswa bergerak masuk ke daalam kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut supaya pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Akhirnya Dandim Jakbar dan Kapolres memenuhi keinginan mahasiswa.

Pukul 17.10                         : Kapolres menyatakan rasa terima kasih kepada mahasiswa karena sudah tertib. Kemudian mahasiswa membubarkan diri secara tertib dan perlahan-lahan kembali ke kampus. Saat itu hujan turun sangat deras.

Pukul 17.15                         : Tiba-tiba ada tembakan dari arah belakang barisan mahasiswa. Kemudian mahasiswa lari menyelamatkan diri masuk ke dalam gedung-gedung kampus. Namun aparat keamanan terus menembaki dari luar. Selain itu, puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam gedung kampus.

Pukul 17.15-23.00             : Situasi di kampus tegang. Para korban yang berjatuhan dirawat di beberapa tempat. Empat mahasiswa Trisakti dinyatakan meninggal dunia. Adapun yang mengalami luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Akhirnya jumpa pers dilakukan oleh pimpinan universitas. Selain itu, anggota Komnas HAM pun datang ke lokasi.


Hikmah dari kejadian Trisakti

Kejahatan kemanusiaan (HAM) selalu ada pada rezim pemimpin yang otoriter. Bangsa Indonesia harus mencegah lahirnya pemimpin yang merupakan bagian dari rezim otoriter Orde Baru.

Kejahatan kemanusian yang terjadi pada masa Orde Baru melalui penculikan serta pembunuhan para aktivitis kemanusiaan, jangan sekali-kali dilupakan karena hal itu sama saja merupakan sejarah. Bung Karno sudah mengingatkan kepada bangsa ini dengan semboyan “Jas Merah”.

Mereka yang pernah terlibat dalam kasus kejahatan kemanusiaan, sudah melakukan metamorfosis dengan membawa jargon “perubahan” untuk bisa kembali menggenggam kekuasaan dengan menggunakan kekuatan uang. Hal ini sangatlah berbahaya, kita semua harus memperjuangkan keadilan dan menghukum dengan balasan yang setimpal. Nyawa dibalas dengan nyawa.

Analisa Kritis

Kejadian ini jelas menorehkan luka tidak hanya bagi keluarga para korban, aktivis HAM, masyarakat Tionghoa, namun juga masyarakat secara umum hingga saat ini. Ingatan sejarah itu pun tak kunjung memberikan kesembuhan batin lantaran tak ada kejelasan proses hukum yang dilakukan guna menindak para aktor dibalik itu semua. Bahkan, siapa aktor dan sutradara yang “sebenarnya” pun sampai saat ini belum diungkapkan secara resmi oleh pihak berwenang. Presiden SBY pun seolah membungkam diri atas kasus ini. Banyak sekali waktu yang bisa diupayakan oleh Presiden SBY jika memang benar-benar mau mengusut tragedi ini mengingat sudah dua kali menjabat. Menurut Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin dalam hariansumutpos.com (14/05/2012), “Peristiwa itu tidak cukup sekadar diperingati setiap tahun”. Pemerintah wajib menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. “Presiden harus langsung memimpin agar hal itu tak menjadi warisan masalah bangsa,” tandasnya. Untuk mempercepat penanganan, Lukman mengatakan bahwa presiden perlu membentuk satuan tugas (satgas) yang langsung di bawah koordinasinya.

Prabowo Subianto, adalah salah seorang yang diduga mendalangi peristiwa itu berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (Jusuf, dkk. 2005). Dugaan motifnya adalah untuk mendiskreditkan rivalnya Pangab Wiranto, untuk menyerang etnis minoritas dan mendapat simpati serta wewenang lebih dari Presiden Soeharto bila kelak ia mampu memadamkan kerusuhan (Soempeno & Kunto, 2009). Kini, Prabowo muncul sebagai sosok yang pro-rakyat kecil dengan menggandeng HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia). Bahkan, nama Prabowo Subianto selalu unggul sebagai calon Presiden RI 2014-2019 dalam berbagai survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga seperti SSS (Soegeng Sarjadi Syndicate), LSN (Lembaga Survei Nasional), dan Saiful Mujani Research & Consulting. Prabowo digadang-gadang mampu membawa pemerintahan yang lebih baik dan berpihak kepada rakyat kecil. Popularitasnya pun meningkat seiiring dengan melambungnya nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pentas cagub-cawagub DKI Jakarta 2012 yang diusung oleh partainya, Gerindra. Dengan demikian, muncul opini: Apakah ini sebagai bentuk penebusan dosa bagi Sang Mantan Pangkostrad? Bagi Prabowo sendiri, ini adalah sebuah kewajiban dan pengabdian kepada NKRI karena ia merasa tidak bersalah dalam Tragedi Mei 1998.

Bahkan sampai saat ini pun, Pemerintah saat ini yaitu Jokowi-Jusuf Kalla memimpin selama kurang lebih 3 tahun Tragedi Trisakti (12 Mei 1998) belum terselesaikan hingga saat ini. Bahkan pemerintah seakan buta bahkan mungkin memang sengaja tutup mata terhadap tragedi dimana nyawa rakyat indonesia dihilangkan begitu saja, dimana darah berceceran di jalanan, pelanggaran hak asasi manusia terjadi, bahkan oknum penembak 4 mahasiswa sampai saat ini tidak dihukum bahkan diketahui identitasnya, sang “sutradara” pun tidak diketahui. Apa yang salah dari pemerintah kita? Apakah mereka sudah buta atas pelanggaran HAM saat itu? Apakah mereka tidak memikirkan bagaimana kesedihan dari keluarga korban, teman, dllnya? Apakah nyawa manusia sudah tidak berharga lagi? Apakah mereka hanya memikirkan soal modal, kekuasaan, modal, dan kekuasaan? Apakah hanya itu yang ada dalam otak penguasa? Tidak memperhatikan rakyatnya yang berteriak menuntut keailan dan kesejahteraan?

CATATAN PEKING – NJOTO

Alangkah hebat

Di hati alangkah dekat!

Kaum tani mengolah besi

Kaum buruh di sawah berpeluh

Bajak dan baja tukar-bertukar

Mahasiswa pada pekerja

Kaum pekerja menjadi siswa

Berjuta milisia angkut senjata

Siapa berani serang Sosialisme?

Apakah puisi diatas masih relevan untuk saat ini? Mari kita refleksikan bersama.

JANGAN AMNESIA dengan 12 mei 1998.

JAS MERAH.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s