Helaan-helaan nafas yang menginginkan suatu perubahan itu tercium seketika di jalanan Ibu kota dengan seruan-seruan “Allahu Akbar!!!”, “Tolak Soeharto”, dengan diiringi nyanyian-nyanyian Indonesia Raya  dengan khidmat dan penuh semangat meski disekelilingnya suara peluru berdesing seakan tak mau kalah dengan seruan dan nyanyian massa. Ya, semua itu adalah sedikit gambaran perjuangan massa dalam menolak sistem orde baru khususnya dalam aspek ekonomi dan politik. Perjuangan yang kita kenal dengan Reformasi 98.

 

Tepat pada bulan ini perjuangan itu menyentuh usia 19 tahun. Namun cita-cita dari reformasi belum menampakkan dirinya dengan percaya diri sebagaimana yang telah diidamkan oleh massa sejak reformasi masih dalam masa embrio. 6 tuntutan massa menyiratkan keinginan perubahan di bidang politik dan perbaikan di bidang ekonomi secara besar-besaran sebagai faktor pendorong massa turun ke jalan. Di bidang politik, pemenuhan hak-hak sipil dan politik Rakyat, serta penghapusan dwi fungsi ABRI dengan cara menjatuhkan Soeharto sebagai presiden menjadi agenda penting, itu karena sistem orba memakai cara otoriter dalam mengatur dan menjalankan negara serta sistem pemerintahannya. Tuntuan perbaikan di bidang ekonomi merupakan tuntutan yang tak bisa diganggu gugat dari massa, meruntuhkan sistem ekonomi yang bercorak fasisme korporatis dengan sistem yang lebih populis adalah salah satu yang terpenting. Sistem ekonomi fasisme korporatis dalam hal ini adalah fasisme yang menghendaki pengekangan hak sipil dan politik Rakyat, dan  neo-korporatisme yang mendukung organisasi kelompok kepentingan ekonomi dan partisipasi mereka sebagai penggerak utama dalam perumusan, negosiasi, adopsi, dan administrasi kebijakan ekonomi yang didukung oleh kekuatan penuh pemerintah (Robert Higgs : 2006), atau simpelnya, adanya aliansi antara birokrasi dengan perusahaan di ranah ekonomi.

 

Dua agenda diatas sebagai faktor penggerak spirit massa untuk memastikan bahwa orde baru harus tumbang sebelum memasuki era millenium selain dari adanya kesempatan politik dan kondisi krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun itu. Jika dilihat dari dua agenda utama, akhirnya muncul pertanyaan apakah benar tujuan reformasi adalah melakukan neoliberalisasi negara ini sebagaimana sejarah mencatat? Apakah pasca kemenangan massa di tahun 98 kondisi ekonomi dan politik sudah sesuai dengan khitah reformasi diawal?

 

Dua pertanyaan diatas bisa dijawab dengan pendekatan histotikal dan membaca realita hari ini. Untuk pertanyaan pertama, Max Lane menguraikan bagaimana gerakan reformasi pada 98 pada sebelum sampai sesudah dalam bukunya yang berjudul Unfinished Nation. Max mengatakan salah satu aktor utama dalam gerakan reformasi adalah organisasi yang memiliki watak sosialis dan demokratik yang bernama PRD. Upaya membangkitkan kesadaran dengan melakukan mobilisasi massa dilakukan oleh PRD sejak awal 1990-an untuk menumpaskan sistem yang dzolim ini. Selain PRD banyak juga organisasi yang memiliki watak yang sedikit sama dan terlibat dalam gerakan reformasi 98 antara lain FMN, FPPI, WALHI, dsb. Sehingga tidaklah mungkin organisasi yang berwatak sosialis  memperjuangkan masuknya neoliberalisme kedalam bumi pertiwi yang keduanya saling berkontradiktif atau bertentangan, selain hal itu tidak ada poin tuntutan massa  yang secara eksplisit menginginkan hal itu.

 

Yang kedua, jawabannya adalah tidak, karena hal ini terlihat dari realita hari ini yang masih menghadirkan pola yang repetitive dari orde lama dalam menjalankan sistem pemerintahan. Selain itu kondisi ekonomi dan politik belum juga memperlihatkan kondisi yang diidamkan oleh massa reformasi dahulu. Beberapa contoh memperlihatkan hal tersebut antara lain dibidang politik, melakukan ideologisasi terhadap Pancasila untuk mempertahankan kekuasaaan yang dulu menjadi jurus andalan orde baru, hari ini dijalankan kembali di era Jokowi dengan dikeluarkannya kebijakan pembubaran HTI atas nama Pancasila. Repetisi pola tersebut adalah tergambar dari bagaimana dasar filosofi negara yaitu Pancasila, dijadikan alat politik untuk meredam kekuatan yang berhasil sedikit mengguncang pemerintahan Jokowi. Dengan In the name of Pancasila, meskipun hari ini lebih soft dibanding era orde baru karena melewati jaliur hukum , akan tetapi pola tersebut sama dengan yang dilakukan rezim orba. Disparitas kehidupan sosial dan ekonomi semakin rumpat hal ini bisa dilihat dari rilis survey dari Oxpam dan Internasional NGO Forum pada awal tahun 2017, yang menyebutkan kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan harta kekayaan 100 juta Rakyat Indonesia. Selain itu pemberangusan HAM masih terjadi dengan melibatkan negara sebagai aktor utama seperti pemberangusan lahan pertanian di Kendeng yang harus mengorbankan nyawa  almarhumah Mbok Patmi (semoga amal ibadah Beliau diterima di sisi-Nya dan dosanya dilimpahkan kepada negara dan aktor lainnya yang bertanggung jawab dalam pembangunan pabrik semen di Kendeng). Sehingga bisa disimpulkan bahwa Khitah reformasi belum juga terkabul.

 

Ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab mengapa sampai saat ini khitah reformasi belum juga tercapai, antara lain yang pertama adalah gerakan yang salah memilih gandengan. Yang dimaksud gerakan yang salah memilih gandengan adalah ketika massa tidak melibatkan kelas buruh, buruh tani, dan kekuatan rakyat lainnya yang bisa memastikan agenda reformasi tercapai. karena selain jumlanya yang besar, mereka memiliki watak yang sama Karena mereka merasakan struktur penindasan yang nyata dari kondisi materi yang terjadi. Namun gerakan  reformasi justru memilih menyandarkan gerakan kepada borjuasi nasional atau elit politik dalam negeri seperti Amien Rais dan Megawati Sokarnoputeri yang memiliki watak yang sama dengan tokoh yang massa lawan pada saat reformasi. Watak oportunis, praktis(orientasi kekuasaan), dan eksploitatif adalah watak yang bisa dilihat dari manuver politik mereka pasca reformasi. Jangankan melakukan perubahan untuk kesejahteraan, untuk sekedar menegaskan anti Dwi fungsi ABRI saja sebelum pemilu 99 mereka tak pernah secara eksplisit dalam setiap pidatonya menegaskan hal itu. Padahal penghapusan Dwi fungsi ABRI adalah agenda utama yang masuk dalam tuntutan massa reformasi. Seharusnya hal ini sudah bisa terbaca mengenai watak yang sesungguhnya oleh massa  dari dua tokoh yang menjadi sandaran massa tersebut.

 

Yang kedua adalah kekaburan tujuan. Terjadinya kekaburan tujuan adalah hal yang bisa dilihat dari gerakan reformasi. Hal ini terlihat salah satu contohnya adalah dari usulan yang kontradiktif, ketika massa menggaungkan demokrasi namun menjelang pemilu 99, massa menyerukan pembentukan Komite Nasional yang tidak memiliki sifat demokratis. Satu hal tersebut bisa menjelaskan bahwa terjadi kekaburan tujuan dari reformasi . Massa menganggap yang terpenting hanyalah meruntuhkan rezim orba, sehingga apapun itu yang dianggap sebagai anti-thesa orba harus diperjuangkan tanpa dipertimbangkan baik buruknya,. Tan Malaka dalam aksi massa mengatakan bahwa gerakan massa untuk suatu perubahan seharusnya bukan saja menghukum sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai segenap perbaikan dari kecelaan. Disini secara implisit bahwa setiap gerakan harus terorganisir baik dalam hal metode maupun perumusan tujuan. Sehingga dalam kondisi kekaburan tersebut gerakan 98 dengan mudah dikanalkan oleh elit. menurut Max Lane, di kalangan aktivis mahasiswa pada saat reformasi 98 berkembang konsep yang campur aduk, yang salah satu dan kemudian menjadi arus utama adalah mengkonsentrasikan arah perubahan pada figur-figur elit politik yang luas dan tidak termasuk atau dicap Orde Baru, khususnya Amien Rais, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Terkait mengapa terjadi kekaburan tujuan, mungkin salah satunya karena tidak adanya sosok solidarity maker yang bisa menyatukan massa sampai kedalam ide dan gagasan, atau karena hal tersebut tidak dipersiapkan secara matang sejak awal oleh massa. Apapun itu, yang jelas tidak ada narasi jelas yang disiapkan mengenai mau dibawa kemana Indonesia pasca tumbangnya Soeharto dan antek rezim orbanya  sehingga muaranya dalam kondisi kekaburan tersebut gerakan 98 dengan mudah dikanalkan oleh borjuasi nasional atau elit politik sesuai dengan kepentingan mereka.

 

Swhingga yang terjadi adalah khitah reformasi tak kunjung tercapai dan perjuangan reformasi dianggap sebagai perjuangan pro-demokrasi dan ekonomi pasar yang sebenarnya bukanlah sebuah tujuan reformasi yang sesungguhnya. Akibat dari menjadikan borjuasi nasional atau elit politik sebagai gandengang dan tidak dijelasnya narasi yang menjelaskan tentang arah Indonesia setelah kemenangan reformasi 98 sejak awal membuat khitah murni reformasi tidak bisa tercapai sekaligus mudah diarahkan dan dimanfaatkan oleh elit yang berwatak oportunis dan praktis, sehingga menyebabkan reformasi hanya sebatas  proses sirkulasi kekuasaan beserta memastikan prosedur tersebut digunakan dalam suksesi kepemimpinan di Indonesia kedepan (demokrasi politik yang procedural) dan menjadikan keringat massa reformasi untuk dimanfaatkan untuk masuknya neoliberalisme yang bukan menjadi agenda utama reformasi 98 dan sampai hari tidak menjawab kebutuhan Rakyat kecil tentang kesejahteraan dan mengurangi disparitas sosial ekonomi di Indonesia, celakanya sector pendidikan menjadi salah satu korban pertama dengan masuknya PP No 66 Tahun 1999 yang mengamini tentang liberalisasi di sector pendidikan.

 

Sehingga dari uraian diatas semua mengarah hanya pada satu muara, yaitu bahwa reformasi 98 adalah reformasi yang dikhianati.

 

 

 

Jum’at,  26 Mei 2017

Salam,

 

 

 

Muhamad Agil Zulfikar

 

Daftar Pustaka

Denny J.A, Jatuhnya Soeharto, LKIS Yogyakarta, 2006

Max Lane, Unfinished Nation, Penerbit Djaman Baroe, 2014.

Tan Malaka, Aksi Massa, Teplok Press, 2000

Robert Higgs, Quasi-Corporatism: America’s Homegrown Fascism, 2006

Herbert Faith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, Cornell University Press, 1962

Berbagai diskusi dengan Kawan seperjuangan

Advertisements

2 thoughts on “Reformasi Yang Dikhianati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s