‘Angkatan Perang Republik Indonesia berdjoeang membela kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan antara lain berarti: kembali kepada kepribadian sendiri, -Kepribadian Bangsa Sendiri. Dalam Kepribadian Bangsa termasuklah Kepribadian Seni Bangsa. Sesuatu seni jang tidak memantjarkan Kepribadian Bangsa Sendiri bukanlah seni jang berurat-berakar dalam djiwa Bangsanja…’ Ir. Sukarno (Katalog Pamerang Seni Rupa: Himpunan Peminat Seni Rupa Angkatan Perang, 1955)

 

Seni, satu kata yang selalu menjebak manusia mengartikannya dengan sebuah keindahan, dari mana asal muasal kaitan seni dengan keindahan? Siapa yang mengajari kita bahwa seni adalah sama dengan keindahan ? cukup sampai disitu saja kita mencurigai keindahan dalam seni. Ada sebuah kisah tentang ‘Peneliti Anthropology yang sedang melakukan riset disebuah daerah yang ditinggali suku terpencil, dia mencatat semua hal seperti cara mereka menanam: berarti berkegiatan ekonomi, membaca mantra: spiritual, ritual pernikahan: biologis, namun ada satu yang tidak dipahami peneliti tersebut, yaitu saat anggota suku mencoret-coret tebing, menyusun batu-batu, membuat replika manusia dari kotoran hewan, dan menari dihari-hari tertentu, itu semua dilakukan anggota suka tersebut setelah melakukan kegiatan yang sudah disebut diawal, lantas apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?’ (Calne, 2004.) dari kisah diatas dapat kita yakini bersama bahwa seni hadir disaat semua  kebutuhan manusia sudah dipenuhi, dalam artian bahwa seni yang unggul dan luhur adalah cermin dari sebuah peradaban yang maju dalam ekonomi, politik, bahkan spiritual, yang kemudian dibingkai dengan indah oleh seni.

Menilik seni Indonesia modern, kian banyak karya dari seniman Indonesia dilelang dengan harga yang tinggi di balai-balai lelang Internasional maupun lokal, ‘tercatat karya S. Sudjojono berjudul: Our Soldiers Led Under Prince Diponegoro,  terjual dengan harga Rp. 104,2 miliar’ (Sotheby’s, 2014.) selanjutnya disusul dengan ‘karya Hendra Gunawan dengan judul: Bathing in the Shower, terjual dengan harga Rp. 18 miliar’ (CNN, 2015). Maka tak diragukan lagi bahwa keunggulan seni Indonesia sudah mampu bersaing dan dipertimbangkan di dunia seni Internasional. Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apa artinya itu semua untuk kemajuan seni di Indonesia sendiri? Siapa mereka yang karya seninya terjual dengan harga tinggi tersebut?.

Sebelumnya akan saya jelaskan tentang foto-foto diatas, diatas adalah ‘poster propaganda yang dibuat di Uni Soviet (sekarang Rusia), saat era rezim pemerintahan komunis masih berkuasa di Eropa Timur, terhitung 70 tahun sejak 1917 sampai dinyatakan hancur pada tahun 1991.’ (Katalog Pameran Poster Rusia, 2006.) Poster-poster tersebut adalah karya visual yang nyata mempresentasikan sebuah identitas dari konteks zaman dan dimana karya tersebut diciptakan, kesan yang kuat dan kaku terpampang jelas lewat warna-warna yang gelap dan dalam, gaya konstruktifis yang terbuka, serta kesan dramatis yang secara keseluruhan menggambarkan ke-khas-an aliran seni Realisme Sosialis yang dominan di Rusia pada saat itu. Badan yang tegap dari pemuda-pemudi, cerobong asap dan simbol lambang Negara terpampang dengan jelas, yang secara lugas mencerminkan kondisi masyarakat yang kuat dan sehat, industrialisasi yang maju, dan simbolisme yang mendobrak sekat relasi sosial pada saat itu. Lantas apa hubungan poster-poster tersebut dengan karya seniman-seniman Indonesia yang laku terjual dengan harga tinggi di balai-balai lelang Internasional?

Pertama yang perlu dipahami bahwa karya kedua seniman Indonesia yang terjual miliaran tersebut adalah karya kedua raksasa seni Lembaga Kebudayaan rakyat atau disingkat LEKRA, yaitu lembaga seni yang identik dengan madzhab Realisme Sosialis pada era Orde Lama, dengan pedoman LEKRA adalah ‘Bahwa Rakjat adalah satu-satunja pentjipta kebudajaan dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia-baru hanja dapat dilakukan oleh Rakjat’ (Njoto, Tempo, 2010.) Kedua, tingginya harga karya S. Sudjojono dan Hendra Gunawan bukan tanpa sebab, fenomena tersebut adalah wujud komersialisasi artefak seni yang dilakukan oleh para kolektor yang berwatak kapitalis yang dengan sengaja tidak mengindahkan tujuan utama si seniman dalam membuat karya tersebut, yang jelas dan nyata bukan untuk privatisasi maupun komersil. Melainkan untuk mengangkat kesadaran kelas lewat produk-produk budaya, dan memperkaya seni perlawanan dikalangan rakyat, serta untuk membangkitkan semangat revolusioner di Indonesia pada konteks pasca kemerdekaan.

Karya kedua seniman LEKRA dan poster-poster propaganda Uni Soviet milik mantan Duta Besar Indonesia untuk Rusia yaitu Susanto Pudjomartono memang berbeda dalam segi tujuan maupun cara pembuatannya, namun keduanya bernasib sama, persamaan keduanya adalah sama-sama beraliran Realisme Sosialis, dan sama-sama kehilangan fungsinya yang sudah kita bahas diawal tulisan (baca paragraph pertama), yang selanjutnya dapat kita simpulkan sebagai karya seni yang sanggup memberikan kesadaran akan identitas Bangsa, dan kemajuan peradaban dalam segi Budaya, Politik, Ekonomi dll, yang secara praktis untuk menggenapi serta kemudian membingkai kemajuan dengan seni yang indah. Tiada dampak yang berarti dari prestasi berbentuk nominal angka miliaran tersebut dengan kemajuan kesenian kita, namun satu yang perlu dipahami, bahwa kapitalisme sudah menghancurkan cita-cita dan harapan para seniman serta tujuan karya tersebut dibuat, dengan cara memprivatisasi dan mengkomersilkan karya seni, yang pada hakikatnya merupakan budaya yang lahir dan untuk rakyat. Terakhir penulis dengan rendah hati mengajak kawan-kawan untuk tetap berkarya, karena seni adalah wujud cinta dari suatu Bangsa, maka ciptakan dan sebarkanlah cinta tersebut untuk kemajuan dan perubahan yang nyata bagi semua rakyat Indonesia.

 

Oleh: cq

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s