1945, Indonesia meraih kemerdekaan atas dirinya sendiri. Dibawah komando Bapak Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, jutaan rakyat dari Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bergerak sebagai bangsa yang terbebas dari bentuk penindasan asing. Perlawanan terhadap imperialisme menurut Soekarno adalah gerbang menuju perlawanan terhadap kapitalisme. Karena lekatnya imperialisme dengan kapitalisme.

Puluhan tahun berlalu, semenjak turunnya Soekarno oleh geger ’65 & Supersemar menyisakan banyak luka di negeri ini. Kemerdekaan bukan lagi milik rakyat, melainkan milik kaum-kaum pemodal. Isu SARA dijalankan hanya untuk meraih dukungan suara, direbutnya lahan kaum-kaum tani oleh pemilik pabrik yang dibekingi oleh pemerintah, serta gusur-menggusur dengan alasan keindahan menjadi hal yang patut diprihatinkan hari ini.

Uniknya, diantara sekemelut tarung-tarungan diantara kaum-kaum borjuis elit, diantara gelanggang tarung buruh melawan pemilik pabrik, dan adu pukul antar kaum miskin kota dengan lumpen proletariat, selalu ada yang mengaku sebagai nasionalis sejati. Selalu ada yang mencatut-catut Pancasila sebagai pembenaran atas dirinya sendiri. Dan bila Pancasila sebagai pembenaran dirasa kurang cukup, perlulah adanya suatu tokoh yang dapat jadi “ikon maskot” atau “merk dagang” bagi kelompok-kelompok ini. Dan yang dirasa paling gampang diterima(setidaknya oleh sebagian besar kelompok di negeri ini) adalah Soekarno.

Soekarno, identik dengan nasionalisme yang memperjuangkan rakyat yang tertindas. Soekarno pula yang identik dengan perlawanan terhadap bangsa asing. Entah kenapa hari ini pula, Soekarno dan nasionalismenya sering disalahgunakan untuk melanggengkan penindasan yang justru menjadi musuh utama Soekarno. “Siapa yang tidak bangga dengan Soekarno, anti terhadap Indonesia!”, mungkin beberapa kaum muda sekarang bahkan memiliki pemikiran seperti itu.

Bukan saya anti-Soekarno, maupun anti-nasionalisme. Tapi dalam kenyataannya, saya miris ketika Soekarno dijadikan alat seenakperutnya untuk mengagungkan nasionalisme yang jauh dari konteks sebenarnya. Soekarno menggunakan nasionalisme sebagai landasan untuk menyadarkan rakyat yang beraneka ragam tentang pentingnya persatuan bangsa Indonesia. Nasionalisme hari ini hanya terbatas pada memberikan segala sesuatu milikmu, bahkan nyawa, harta atau bahkan cintamu secara membabi buta terhadap negara. “Ibu, serahkan semua hasil keuntungan ini kepada negara, sebab tiada bukan hasil dagangan ini untuk negara. Bilamana ibu melawan, maka sama saja ibu melawan negara. “ bukan tidak mungkin, jika nasionalisme suatu saat bisa berbentuk seperti itu.

Lantas, bagaimana Nasionalisme Soekarno? Nasionalisme untuk tidak mempercayai segala bentuk tipu daya modal asing, untuk tidak takut terhadap intervensi dan ancaman “ra mangan burger kapok koen” nya bangsa asing. Inilah dasar nasionalisme yang Soekarno dengungkan.

Apakah Indonesia butuh Soekarno-Soekarno baru? Saya pikir tidak. Seribu Soekarno, maupun orang yang menunjuk hidungnya dan mengatakan “Aku Soekarno yang paling Soekarno” tidak akan mengubah bangsa ini sederajat pun ke arah yang lebih baik. Yang kita butuhkan sekarang, cukup orang-orang yang sadar arti nasionalisme Soekarno yang sejati, nasionalisme yang membebaskan rakyat dari struktur penindasan. Pasti Soekarno sendiri akan bertepuk-tangan bahagia di atas sana, sambil menertawai propagandis yang terkukung tangannya, “rasa kon, propagandamu wes matek kabeh sak akar-akar e”.

-ditulis oleh: DM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s